Tuesday, August 9, 2016

Daisy Putih



Pernahkah kalian melihat bunga matahari yang berbentuk kecil dan sering kali kita jumpai di pinggiran jalan? Itulah bunga Daisy, yang tak pernah terlihat mewah, bahkan menarik. Namun, cantik.
Satu kata yang dapat saya katakan. 'Sederhana'. Kesederhanaannya mengubah bunga yang tak menarik dan dipandang sebelah mata itu menjadi cantik dan berkesan.

Menurut cerita, Daisy berasal dari seorang peri yang berubah menjadi bunga liar tapi tidak menawan agar tidak menarik perhatian. Ya. itu hanyalah sebuh cerita.
Adapun makna dari bunga Daisy adalah
Putih: kepolosan dan cinta yang setia
Daisy putih melambangkan kepolosan dan cinta yang setia. 

Terkadang saya sering menyanding-nyandingkan kepribadian saya dengan makna bunga ini. Boleh ya?. 
Saya adalah tipe orang yang suka menilai kepribadian seseorang. Termasuk diri saya sendiri. Saya kadang pun merasa aneh, merasa bahwa diri saya adalah bukan diri saya. Ini karena intensitas saya menilai diri saya sendiri yang terkadang kelewat batas.

Kepolosan.
Apakah diri saya adalah sosok yang polos? Kadang iya.. kadang pun tidak..
Polos hanya bisa dinilai oleh sosok orang lain di luar kita. Ketika orang lain menyebut kita polos, sedangkan kita sendiri merasa bahwa diri kita adalah sosok yang lebih dari itu.

Cinta yang setia.
Apakah saya mempunyai cinta yang setia? Hahaha..
Jawabannya, iya. Jika saya sudah mencintai sesuatu, maka saya akan menjaganya.

Read More

Apakah Masih Jaman Siti Nurbaya?


Saya pikir sekarang sudah jamannya keseteraan gender. Ketika hak-hak wanita mulai di akui, dan pendapat-pendapat mereka mulai di dengar. Namun, bagaimana dengan perjodohan? Apakah wanita mempunyai hak untuk menemukan jodohnya sendiri? ataukah masih saja ada keterpaksaan dalam menjalin rumah tangganya?

Akan ada banyak pro kontra dalam membahas ini. Mungkin bagi wanita yang berpikiran bebas dan terbuka, tentu saja perjodohan tanpa mengenal satu sama lain adalah hal yang kolot yang masih saja dilakukan di jaman modern ini. Wanita berhak menentukan pilihannya sendiri. Bahkan jodoh adalah hal yang tak bisa dipaksakan.

Dan bagi sebagian orang, perjodohan adalah sebuah wujud kepatuhan anak terhadap orangtuanya. Ada norma-norma tertentu yang membuatnya harus dipatuhi. Sampai saat ini, masih banyak terjadi hal semacam ini. Ini wajar karena kita masih menganut adat ketimuran, rasanya membantah perintah orang tua adalah sebuah kesalahan besar.

Selain itu, bagi suatu agama tertentu perjodohan adalah proses yang baik untuk membangun suatu rumah tangga. Dalam agama islam dikenal dengan kata ta'aruf. Dimana satu sama lain hanya melakukan perkenalan tanpa pacaran. Ini dilakukan agar tidak terjadinya sebuah pelanggaran-pelanggaran tertentu atau sebuah perzinaan. Jika mereka memang saling tertarik satu sama lain, maka proses akan bergulir tahap berikutnya yaitu pernikahan.

Lalu, apakah hal semacam itu bisa disebut perjodohan layaknya dilakukan pada jaman Siti Nurbaya? Dimana ia dipaksa menikah dengan seseorang yang lebih tinggi derajatnya dan lebih tua darinya. Dan yang lebih menyakitkan ia tak mencintainya sama sekali.
Hal semacam itu memang sangat menakutkan, apalagi bagi sebagian wanita. Tak mengindahkan hak-hak wanita, dan sebaliknya menginjak-nginjak hak-hak wanita akan kemerdekaannya.

Dan kemudian, mari kita lihat jaman sekarang. Apakah perjodohan-perjodohan yang terjadi pada jaman sekarang ini terlihat menakutkan seperti itu? Tentu tidak. Jaman sekarang sudah banyak lembaga-lembaga penegak hak asasi manusia. Apalagi pelindung hak-hak wanita. Jika terjadi hal-hal semacam Siti Nurbaya, dan si wanita merasa dirugikan akan mudah untuk dilaporkan. Beberapa pihak tentu akan sangat hati-hati.

Bagi saya, saat ini bukanlah jamannya perjodohan-perjodohan layaknya Siti Nurbaya. Wanita mempunyai haknya sendiri untuk memilih, dan juga dipilih. Wanita mempunyai  kekuasaan penuh atas hidupnya. Disamping itu, setidaknya wanita juga harus mengakui kelemahannya. Bahwa ia memang makhluk lemah, dibanding lelaki ia lebih rapuh. Maka dari itu, wanita pastinya membutuhkan sosok seorang lelaki. Sehebat-hebatnya wanita ia tetaplah hanya tulang rusuk lelaki.
Dan jika perjodohan terjadi padanya, setidaknya ia bisa melihat hal positifnya. Bahwa itu adalah upaya untuk menemukan jodohnya. Dan yang pasti sebuah pernikahan terjadi haruslah dilandaskan atas sebuah cinta sama lain, bukan keterpaksaan.






Read More

Monday, August 8, 2016

Menulis Itu Tidak Mudah


sumber: google
Saya yakin, banyak orang yang ingin menjadi seorang penulis. Apalagi menjadi seorang penulis yang best seller, dimana karya-karyanya banyak peminatnya dan diburu di setiap toko buku yang ada.
Dan akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan para penulis muda, pemula yang mulai mencapai ketenarannya.

Tentu banyak sekali dari pembaca yang mengenal Raditya Dika. Kebanyakan novel Raditya Dika ini menjadi best seller dan sebagian besar telah dibuat film. Wow.. ini adalah pencapaian yang luar baisa. Dia hanya memulai menulis dengan bercerita tentang kesehariannya dan kemudian di post pada sebuah blog yang akhirnya menjadi sebuah buku.

Bukan hanya Raditya Dika, ada pula penulis-penulis sukses karena karyanya banyak dibaca pada sebuah website yang bernama wattpad. Bukan hal baru lagi, banyak sekali para penulis amatir yang menuangkan ide dan karyanya disini. Jika kalian suka menulis, kalian tentu saja boleh mempostingnya pada website ini. Jika karya kalian cukup bagus dan menarik minat baca banyak orang, tentu saja akan ada editor yang tertarik untuk membukukan karya kalian. Ini merupakan suatu keuntungan yang cukup lumayan. Selain berangan-angan karya akan di publikasikan, tentu saja kalian harus memulai sebuah karya itu.

Nah inilah yang disebut proses menulis. Proses menulis ini yang harus menjadi konsistensi seorang penulis. Proses dimana keberlanjutan menulis harus konsisten. Bukan mood-mood an. Karena menulis adalah proses kreatif untuk membuat sebuah karya dari hasil pemikiran, perenungan dan keberanian untuk dituangkan dalam tulisan.

Kadang, banyak penulis yang mengalami Writer's Block. Saya salah satunya. Saya sedang mencoba membuat sebuah novel. Tapi novel itu sudah berumur 3 tahun dan tidak selesai-selesai. Ini karena ketidakkonsistensi saya untuk melanjutkan. Saya selalu merasa tidak mood jika ide kurang cemerlang, kadang juga merasa sibuk sekali sehingga draft novel itu tak tersentuh. Banyak sekali alasan sehingga draft itu tetap jalan di tempat. Kadang disini, saya merasa sedih.

Butuh tekad yang kuat dan kemauan yang tinggi untuk menyelesaikannya. Jangan biarkan rasa mood menguasai. Coba untuk brainstorming. Ide bisa berasal dari mana saja. Jangan pilih-pilih. Cukup pilih satu dan jabarkan, uraikan. Yang terpenting adalah jalankan ide itu, dan buat sebuah karya.


Karena sebuah tulisan akan diakui jika itu sudah dikemas dengan cukup baik dan tentu saja sudah terselesaikan.
Jadi, sudah sampai mana tulisan kalian? Jangan pernah menyerah karena takut tulisan itu jelek, ingat first draft is shit.

Read More

Monday, April 25, 2016

Jodoh kamu siapa?



Jodoh tak harus orang yang kamu sukai, tapi yang benar-benar membahagiakan mu sampai akhir. Jodoh tak perlu orang kau kenal, karena dia akan tiba-tiba datang terhadapmu dan hatimu setuju.
Jodoh? Siapa orang yang tau?
Bahkan ketika kamu yakin orang yang disandingmu jodohmu kelak, kau hanya berharap.
Penentuan akhir adalah ketika kedua orang tua kalian saling setuju, saling memberi restu.
Akan lebih baik cinta bertepuk sebelah tangan, tapi tidak untuk cinta tanpa restu.
Jodoh adalah cerminan dirimu sendiri.
Kamu baik, maka jodohmu kelak juga baik.
Kamu baik. Ternyata jodohmu tak sebaik yang kamu kira, ada 2 kemungkinan: 1) dia belum jodohmu. 2) kamu kurang bersyukur dan berekspektasi lebih.

Ah jodoh..
Bagi jomblo labil seperti saya, saya juga sering bertanya-tanya.
Apakah jodohku adalah dia? (seseorang yang selama ini mengisi pikiran dan hati saya, begitu juga doa-doa saya)
Ataukah dia? (saya tidak tau siapa, kemungkinannya dia mengenal saya dan dia selalu berdoa setiap malam untuk saya)
Ataukah dia? (saya tidak tahu siapa, dia juga tidak tahu saya siapa, namun karena takdir Tuhan kami dipertemukan)
Rumit bukan yang ada dalam pikiran saya ini?
Lalu saya ingat, bahwa pemikiran seperti itu tidaklah ada gunanya, kenapa?
Karena berpikir saja tak akan mendekatkan jodohmu, tak akan pula memperbaiki jodohmu.
Satu-satunya cara adalah mendekatkan diri kepada pencipta-Nya, dan memperbaiki dirimu lebih baik lagi.
Jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri.

Read More

Wednesday, December 16, 2015

Lang Leav : The Girl He Loves



Image By: @art_of_sepet

There was a man who i once know,
for me there was no other,
the closer to loving me he grew
the more he would grow further.

I tried to love him, as his friend
then to love as his LOVER.
But he never love in the end- 
his heart was for ANOTHER.

                                - Lang Leav
Read More

Monday, December 14, 2015

I am alone, but not lonely


- 'I AM NOT SINGLE. I AM A GREAT LOVER OF MY OWN LONELINESS'

Karena sendiri tak selamanya tak punya cinta. Seorang sendiri justru mempunyai begitu besar cinta di dalam hatinya. Namun hanya dia tak mengungkapkannya. Terlebih cinta terhadap kesendiriannya. Setiap orang mempunyai alasan dari setiap yang ia pilih. Termasuk sendiri. Terkadang bagi orang lain yang melihat, seorang sendiri terlihat begitu kasihan, kesepian, dan juga merana? 
Mereka salah, justru orang yang memilih sendiri, dia begitu menikmati setiap detik waktu yang ia lewatkan bersama kesendiriannya. Setiap detik itu membahagiakan baginya. Dan setiap detik itu, ingin ia ulang dan ulang sekali lagi, bersama kesendiriannya.
Lalu apakah ia merasa kesepian? Tak akan pernah.
Kesepian hanyalah untuk seseorang yang mengharapkan suatu kehadiran.
Dan yang paling menyedihkan lagi adalah momen ketika kamu merindukan seseorang, dan kamu tahu bahwa mereka telah pergi.
Sendiri adalah ketika waktu dan dunia hanya berputar denganmu dan untukmu. Tak ada orang lain yang bahkan mengintip dalam pikiranmu. 

Read More

Thursday, June 25, 2015

Harapan kecil

Jangan pernah berhenti berharap karena sekali kamu putus asa, semua usahamu akan sia-sia. Kalimat yang sering dekali di dengung-dengungkan oleh banyak motivator. Memang benar dan tidak salah sama sekali. Siapa bilang ketika seseorang berharap sesuatu dan tidak melakukan usaha sama sekali maka harapan nya akan terwujud? sesuatu yang mustahil bukan?

Lalu aku teringat dengan harapan-harapanku, apakah mereka semua terwujud sekarang? dengan berjalannya waktu dan usaha yang aku lakukan?
Ya. beberapa harapan itu terwujud, dan untuk beberapa yang lainnya aku masih mengusahakan.
Satu harapan yang hampir aku lengah mencapainya, hampir dan akan putus asa atau bahkan sudah putus asa?

Harapan itu sangat sederhana, dan sayang sekali harus berkaitan dengan orang lain.
Kalian boleh menebaknya, bahkan jawablah sesuka kalian.
Ya. Harapan itu adalah suatu keinginan untuk memiliki. Memiliki atau boleh dikata mengusai? Oh tidak, tidak.. bukan menguasai..
Ya. ini tentang percintaan. lucu bukan?
Ditengah-tengah harapan-harapan yang menjulang besar aku menyempilkan sedikit harapan untuk disukai seseorang. Atau bahkan di cintai? Ah.. itu berlebihan.
Atau setidaknya berharap untuk sedikit di lihat oleh-nya.
Yah. itulah harapan kecilku yang hampir-hampir aku putus asa mengejarnya.

Read More

Monday, February 2, 2015

Hidup ini Tentang Penyelesaian



Terbaik bukanlah menjadi apa yang orang lain inginkan.
Terbaik juga bukan menjadi apa yang orang lain agungkan.
Terbaik adalah menjadi dirimu sendiri.
Bagaimana dirimu mencari pilihan dalam hidup.
Menjelajahi setiap lekuk pilihan itu.
Hidup adalah semua tentang permasalahan.
Dan bila hidup itu semakin menjemukan, 
bukan lari dari masalah yang harus kau lakukan.
Pilih. Pilihlah jalan masalah yang harus kau selesaikan.

Read More

Monday, September 15, 2014

Rinduku Tak punyai Tempat Bernaung


Aku berjuang melawan rindu
Aku berjuang melawan rasa yang tak seharusnya nampak
Aku berjuang dengan sisa-sisa keletihanku
Tetes-tetes keringat yang penuh asa, tak menjadi arti lagi
Tetes-tetes keringat lalu menguap tak berbekas
Aku tak yakin ingin
Aku tak yakin sampai
Rinduku, piluku
Harusnya kau tak muncul
Hingga sesuatu itu menjadi terbuang
Kelelahan, mungkin sebuah alasan
Tapi tak lagi, ketika kata 'cukup' darimu itu meluncur
Rindu ini kembali melebur
Tak lagi menjadi perjuangan 
Namun sebuah kesia-siaan.
Read More

Tuesday, June 24, 2014

Sepi




Apa kau merasa kesepian?
Kataku iya..
Setiap detik terlewati, namun kau hanya diam dan bergulat dengan pikiranmu
Sendiri..
Apakah itu rasanya menyenangkan?
Kataku mungkin..
Namun, terkadang kau akan sangat menginginkan orang lain..
Menginginkan untuk berbagi waktu bersama, dan melewatinya bersama..
Read More

Thursday, February 6, 2014

Sisi Lain

Mungkin ini sedikit berbeda dari tulisan-tulisanku sebelumnya.
Tulisan-tulisanku sebelumnya berbau cinta, kesedihan, dan kegalauan.. Haha
Ketika aku meminta salah satu temanku untuk berkunjung di blog ini, mereka secara refleks merespon, "Blog galau itu??" Haha.. sepertinya mereka begitu mengenalku dengan tulisan-tulisan galau dan sendu.
Sesungguhnya itu adalah semacam ekspresi perasaan terpendam saja yang aku olah menjadi sebuah kata.

Ketika aku menengok ke belakang dengan tulisan-tulisanku yang sendu, seolah mengisyaratkan bahwa aku tak punya semangat hidup. Aku hanya seorang pengeluh, tak mau bersyukur dan selalu menyalahkan keadaan atas apa yang menimpa. Bagi kalian yang sudah membaca beberapa postingan lama ku, tentu tahu. Di balik puisi-puisi yang aku buat itu tersimpan kisah yang pilu. Haha.. cobalah bayangkan yang sesungguhnya, apakah benar seperti itu?

Tentu puisi itu aku buat dari sisi diriku yang rapuh, yang terluka, dan pasrah.

Dibalik itu semua, tentu saja kalian tak pernah tau sisi ku yang lain. Bagaimana diriku?
Don't judge a book by its cover.
Ini sebenarnya yang akan aku tunjukan pada kalian.
Mungkin pertama kali yang terlintas dipikiran kalian ketika membaca postinganku yang dulu adalah aku seorang cewek galau, yang nggak bisa move on dan terus saja menyalahkan hal yang sama dari semua permasalahan.
Okay. Jika boleh jujur, aku juga lelah bertindak seperti itu, lemah tak berdaya dan memohon belas kasihan.. hahaha. 

Aku berzodiak Cancer. Apa hubungannya? 
Seorang Cancer, mereka adalah orang yang terkesan tertutup, dan suka menyendiri. Terkadang mood mereka juga naik turun. Jadi saat aku membuat postingan yang begitu sedih, mungkin mood ku benar sedang tidak baik. :D
Selain itu Cancer juga pemalu, terkadang dia  menjadi sangat lucu, sangat pendiam dan tiba-tiba secara mendadak merasa sedih. 
Cancer senantiasa melindungi dan selalu memberikan rasa aman dan nyaman. Yah! that's me :D
Cancer tidak menyukai keramaian, dan juga dia lebih suka menyendiri untuk menggali intuisi mereka lebih dalam lagi. Honestly, that's what i always do! :))
Dan semua sifat yang ada diatas, hampir sama persis sepertiku.
Kenapa aku harus membahas zodiak yang hanya sebuah mitos dan tak perlu dianggap kebenarannya menjadi begitu penting dalam hidupku?



Sesungguhnya aku sama sekali tak percaya dengan hal-hal seperti itu, semua orang mempunyai sifat nya sendiri-sendiri. Tak terkecuali aku. Namun, sampai saat ini aku belum sepenuhnya memahami diriku yang sebenarnya, namun aku belajar menemukan diriku seperti apa.

Dan sampai saat ini, Zodiak masih begitu sangat di percaya. Sekitar 80% kesamaan dan prediksi yang telah diteliti selama bertahun-tahun menunjukan kebenaran. Walaupun semua perkiraan tidak semua benar.

Aku sendiri, memandang zodiak sebagai alat bantu menemukan sisi-sisi lain dari diriku, bagaimana diriku, apakah seperti itu?
Dan jangan sangkutin zodiak dengan ramalan. No, No, No!. Aku bakalan bilang tidak untuk ramalan-ramalan tentang zodiak itu. Karena aku menganggap zodiak itu sebuah ilmu, ya.. ilmu yang bisa dipelajari. Mempelajari karakter orang misalnya. Karena kebanyakan karakter orang dapat dibaca dari zodiak mereka.


So, apa zodiak kalian? Apakah kalian sudah menemukan sisi lain dari diri kalian?


Read More

Monday, January 20, 2014

[Cerpen] Love In Silence






Sejujurnya aku ini cantik, hanya saja aku tak yakin kecantikannku dapat menarik perhatian orang yang kusukai. Bukannya aku narsis, namun aku lebih realistis. Banyak orang bilang aku imut, putih dan cantik, namun orang-orang yang menyebutku seperti itu tidak pernah ada yang aku sukai, kebanyakan mereka hanya orang-orang yang menaksirku dan aku masa bodoh kan.


Aku single. Cantik dan single. Bukannya aku tak pernah laku dan tidak ada yang mengajakku berkencan, namun aku terlalu pemilih. Sebenarnya bukan pemilih juga, karena hatiku sudah tersangkut dan terpaut pada satu orang, makanya aku tak pernah mau menerima ajakan-ajakan orang yang mengajaku berkencan.


Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia. Rahasia antara Tuhan dan aku. Selain itu, orang lain bahkan teman dekatku tidak ada yang tau. Namun aku ingin menceritakannya disini. Aku merasa mungkin perasaanku akan bertambah lega, setelah semua rahasia ini tersibak.


Rahasia yang tidak ada artinya, bukan rahasia sesungguhnya. Namun sebuah perasaan yang lama yang aku pendam ntah berapa lama. Memendamnya hanya menjadi beban yang tidak akan hilang. Lebih baik terungkapkan dengan sengaja dari pada terkubur selamanya.


Cerita ini berawal semasa SD. Masa dimana kalian anak-anak bermain dengan lepas dengan seorang kawan main. Aku mengenalnya, sebut saja Raka. Kami bukan kawan main, bukan juga kawan sekolah. Namun orang tua kami saling mengenal, satu dua kali aku melihatnya bersama keluarganya bermain kerumahku. Dia manis, lucu dan ramah. Pertemuan kami tidak begitu istimewa, hanya perkenalan biasa yang tak menyibak makna.


Pertemuan ini semakin lama semakin berurutan, hingga sampai aku menginjak bangku kuliah. Raka tetaplah Raka. Ramah dan selalu menyimpan senyum yang menghangatkan. Sapaannya kepadaku begitu bersahaja. Namun kami terbatas teman.


Kelas 6 SD. Aku merasa jantung ku selalu berdebar-debar tak karuan. Aku kira aku mempunyai penyakit jantung, hingga aku sangat takut untuk tertidur pulas karena takut tidak akan terbangun lagi di pagi hari. Dan setelah aku sadari, penyebab nya adalah pertemuan ku dengan Raka. Ini tidak masuk akal, kenapa hanya melihat seseorang saja, jantung bisa kalap tak karuan. Aku mulai mencari tanda-tanda tidak wajar ini. Disetiap buku yang aku baca di perpustakaan tidak pernah aku temui jawaban itu. Diam-diam aku mengamati percakapan dan tingkah laku para artis di setiap sinetron atau film dengan akting yang mereka lakukan, setiap mereka merasa gugup ketika bertemu orang yang mereka sukai, merasa kesal hampir mati saat orang yang mereka sukai tidak memberi kabar atau malah lebih akrab dengan seseorang lainnya. Kesimpulan terakhir adalah aku jatuh cinta.


Aku jatuh cinta dengan seseorang yang tahu perasaanku pun tidak. Jadi bagaimana aku bisa tahu dia mencintaiku juga atau tidak? Aku pikir ini konyol. 


Kelas 2 SMP. Aku mulai tumbuh menjadi remaja. Mulai mempunyai banyak teman juga pergaulan. Tak lupa juga, mulai banyak yang mengajakku berkenalan untuk selanjutkan menjalin sebuah hubungan. Aku ingin merasakan sebuah cinta. Dicintai dan mencintai.


Teman-teman ku juga sudah banyak yang mulai bermain mata dengan lawan jenis. Mulai saling bertukar pandangan, bertukar surat-suratan, hingga berujung bertukar perasaan. Rasanya sangat menyenangkan. Aku ingin mencoba juga hal seperti itu.


Saat itu tak sengaja di perpustakaan aku bertemu kakak kelasku, yang ternyata adalah tetangga rumah yang tinggalnya agak jauh. Kami hanya bertukar pandang satu sama lain, dia tersenyum dan aku ikut mengulum senyum. Hal itu selalu berulang setiap kami berpapasan. Aku mulai berpikir, inikah awal sebuah cinta? Inikah awal sebuah cerita yang mereka bilang sangat membahagiakan?


Pagi hari saat aku membawa sepedaku untuk berangkat sekolah, mengayuhnya pelan dan menikmati udara yang segar dan sehat. Aku melihat kakak kelasku sudah berada di jalan depanku, terlihat sedang menunggu seseorang.


“Hey..” tiba-tiba dia membarengi di sampingku


“Hey juga..” jawabku dengan senyum polos


“Boleh kenalan? Namaku Radit..” katanya dibarengi senyum sumringah dari wajahnya.


“Aku Dita..” kataku sembari menatap wajahnya.


Dan itu adalah awal dari sebuah hubungan yang terjalin diantara kami. Hubungan kami semakin dekat dan aku sendiri tidak dapat menyebutnya sebagai apa. Dia adalah seseorang yang pengertian dan selalu dapat menjaga perasaanku juga selalu mengajariku hal-hal yang tidak bisa aku pelajari. Aku sangat nyaman bisa selalu berada disampingnya. Namun perasaan yang dulu pernah aku temui saat bersama Raka, kini tidak muncul saat aku bersama Radit. Aku nyaman, tapi jantungku tidak berdetak begitu cepat. Aku senang saat bertemu dengannya, namun tidak merasa gugup dan canggung. Aku marah padanya saat dia tidak ada kabar, namun tidak semarah hingga hampir mati.   


Kelas 3 SMP. Radit sudah lulus dan mulai memasuki jenjang SMA. Dia mulai tampak dewasa dan berpikiran panjang. Kami sudah jarang berangkat sekolah bersama lagi, selain karena kami sudah berbeda sekolah juga karena aku jarang bersepeda lagi, tetapi lebih memilih untuk diantar jemput. Kami janjian di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah kami. Dia bertambah tampan dan keren, dengan kemeja dan jeans juga sepatu sneakers dia menghampiriku. Tersenyum dan menggandeng tanganku menuju bangku yang kosong.


“Bagaiman kabarmu? Lama ya kita tidak saling bertemu..”


“Kabarku baik kak, saat ini aku harus mulai giat belajar untuk bisa lulus ujian sebentar lagi..”


“Kamu pasti bisa, semua pasti akan berjalan dengan baik..”


“Karena kakak, aku selalu bisa, kakak yang mengajariku banyak hal.. tentang pelajaran dan hal yang lainnya.. iya.. semoga semua berjalan dengan baik..”


“Dita, kakak ingin memperjelas sesuatu..”


“Apa kak?”


“Kakak.. benar-benar tulus mencintaimu.. kakak ingin kita bisa saling terus bertemu..”

“Maksud kakak?”


“Dita, maukah kamu menjadi pacarku? Menjadi seseorang yang selalu kakak cintai dan dapat membagi perasaan bersama..”


“Kak...” lidahku kelu, aku tidak dapat menjawab apa-apa, aku bingung dengan perasaanku. Apakah aku benar-benar mencintai kak Radit? Tetapi tidak ada detak jantung yang hebat seperti yang dikatakan banyak orang.

“Kak.. aku bingung..”


“Dita.. kakak tidak akan memaksa, tanyalah hatimu dan dengarkanlah bisikan hatimu yang terdalam...” waktu terasa sangat lama sekali. Satu jam kami hanya terdiam dengan perasaan dan pikiran masing-masing hingga akhirnya...


“Kak.. aku masih bingung dengan perasaanku sendiri terhadap kakak.. kakak tau aku sangat menyukai kakak, tapi tidak ada getaran di hatiku saat bersama kakak.. Kak.. maafin Dita, Dita tidak bermaksud untuk mengabaikan perasaan kakak.. Dita hanya masih bingung....” kata-kata terakhirku mulai mengambang.


“Jadi begitu.. baiklah Dita, Kakak tidak akan memaksa, yang terpenting kakak udah tau perasaan kamu yang sebenarnya terhadap kakak..” kalimat itu meluncur begitu saja bagai burung yang terjatuh ke tanah terjerembab dan pasrah. Penuh kekecewaan dan kepedihan.


Aku telah melukai perasaan orang yang menyayangi dan mencintaiku. Beribu penyesalan datang terlambat kepadaku. Jika saja aku bisa menghargai perasaan kak Radit meskipun hanya sedikit, aku tidak akan merasa sebersalah ini. Aku terlalu jujur kala itu.


Dua tahun berlalu, aku sudah menginjak masa SMA. Masa dimana kita dapat dengan bebas mengekspresikan kebebasan kita. Bebas berpikir dan menentukan arah tujuan hidup kita. Asalkan masih sesuai aturan di sekeliling kita. Dan di SMA ini pula, aku menemukan teman-teman baru yang tak kalah seru dengan teman-teman lamaku. Mereka lebih beragam dan mempunyai karakternya masing-masing.


Setelah kejadian kala itu, kak Radit mulai jarang menghubungiku. Mungkin dia sudah menemukan seseorang yang dapat merawat hatinya karena ulahku. Aku juga selalu berdoa untuknya agar lekas-lekas mencari seseorang yang layak untuknya. Layak untuk menerima semua perasaan sayang dan cintanya.


Aku, aku masih berharap takdir menjodohkanku dengan seseorang yang sangat aku cintai sejak masa kecil dulu. Raka, dia adalah pengharapanku. Masuk SMA, aku sangat berharap bisa satu sekolah dengannya. Namun hal itu tidak tersampaikan. Sebenarnya bisa saja aku paksakan untuk satu sekolah dengannya, namun aku tak mau melawan takdir. Biarkanlah takdir berjalan menjalankan tugasnya, dan manusia berharap untuk keinginannya.

Perasaanku mulai merambat hingga ke akar yang terdalam. Pengharapan-pengharapan yang mulai bertambah bercabang. Kebahagiaan memang dapat di usahakan. Tetapi kesedihan tidak dapat kita hindarkan.


Sabtu malam. Aku pamit kepada orang tua ku untuk bermain bersama teman-temanku, awalnya mereka tak mengijinkan, tetapi karena aku bilang bahwa disitu ada Raka, mereka tenang. Karena secara tak sengaja pula teman-temanku kenal dan akrab dengan kumpulan teman-teman Raka. Berbeda SMA, tetapi kami semua selalu meluangkan waktu untuk hang-out bersama. 


Masa SMP aku jarang sekali melihatnya, karena berbeda sekolah dan juga aku belum terlalu diberi kebebasan untuk bermain keluar. Dan kini, masa SMA aku ingin pergunakan dengan baik-baik untuk memperjelas perasaanku terhadap Raka.


Malam hari di Malioboro. Suasana tidak terlalu ramai seperti saat-saat musim liburan. Banyak orang berlalulalang namun tidak bersemrawutan. Alunan musik yang dibawakan musisi jalanan terdengar ramah dan menghibur. Dan kami lebih memilih tempat makan lesehan untuk menjadi tempat bekumpul bersama. Satu-satu dari mereka mulai memesan makanan, dan kebanyakan yang mereka pilih adalah burung dara goreng yang terkenal gurih dan renyah itu. Aku, lebih memilih untuk memesan ayam goreng saja.  


Dia menatapku, Raka menatapku. Sejenak darahku berhenti mengalir. Otak rasanya membeku dan lidah pun terasa kelu. Senyumnya seperti panah yang ditembakan dewa cinta tepat menuju dadaku. Dengan polosnya, aku hanya ikut menyunggingkan senyum.

Dan sedetik  kemudian dia tak menghiraukan aku, dan lebih memilih berbincang dengan teman-temannya. Kami memang kenal, namun tidak seakrab yang dibayangkan.

Jika saja aku lebih berani sebagai seorang cewek, mungkin aku bisa mengenalnya lebih dekat dan secara perlahan memasuki kehidupannya. Hanya saja kini aku berada disisi terluar dari kehidupannya yang tak perlu dihiraukan atau pun dipedulikan.


Kehidupan berjalan dan masa merubah waktu dan keadaan, namun tidak untuk perasaanku. Meskipun aku berusaha untuk membuka hati terhadap seseorang lain diluar sana yang mungkin lebih baik dari pada cinta masa kecilku, Raka. Tetap saja susah dan mengganjal untuk dapat memasuki ruang yang telah terisi, yang setiap waktu berjalan, terus saja bertambah isinya, namun hanya milik satu orang.


Kelas 3 SMA. Suatu masa dimana kami siswa SMA untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, berjuang demi ilmu yang telah kami pelajari dari SD hingga SMA kini. Dan karena pemerintah masih berpacu pada sistim Ujian Nasional, maka kami mati-matian belajar demi sebuah kata ‘Lulus’.


Kembali kepada Raka, aku masih memikirkannya. Disela-sela kesibukanku sebagai mahasiswa baru, dimana aku benar-benar digojlok para senior-senior di kampusku. Diserbu oleh banyak mata kuliah baru yang tidak aku mengerti. Bayang senyum khas yang selalu dia torehkan dari wajahnya selalu menjadi obat lelah dari setiap kegiatanku.

Kala itu sore, dan senja selalu menjadi penghangat dari sebuah awal malam yang gelap.Tidak ada angin, tidak ada hujan, Raka datang kerumah. Kukira hanya ingin berurusan dengan orang tuaku, karena orang tua kami sangatlah dekat. Namun ternyata, Raka meminta ku untuk keluar bermain bersama. Jangan tanya seberapa senang hatiku saat itu, seperti komedi yang muncul tiba-tiba dan memberikan efek  tawa yang luar biasa.


Kedai coffee. Raka mengajakku kesana. Ruangan yang tidak terlalu ramai, hanya beberapa segelintir orang yang duduk mengobrol. Aroma khas kopi menyeruak keseluruh ruangan. Meski raut muka terkesan biasa, namun hatiku bertanya-tanya. Tidak biasanya Raka mengajakku keluar berdua meskipun hanya untuk minum kopi. Kami memilih tempat, salah sudut ruangan dengan sofa empuk yang nyaman. Dan seperti biasa, aku memesan moccacino dengan whipped cream yang banyak. Raka, sudah bisa kutebak.. dia menyukai rasa kopi original dengan gula tanpa campuran creamer.


1 menit, 2 menit, 5 menit aku menunggu, namun Raka tak memperhatikan rasa penasaranku yang mulai memuncak sampai ke ubun-ubun. Dia hanya menikmati kopinya dan melihat sekeliling seperti mencari seseorang, dan mengacuhkanku di depannya.


“Apa teman-teman juga mau kesini?” tanyaku


“Ahh.. tidak.. Cuma aku mau....” kalimatnya tak terselesaikan


“Arum...!” panggil Raka kepada seseorang yang sepertinya dia kenal. Cewek itu berjalan anggun ke tempat dimana kami mengobrol. Feminim, dan modis. Itu kesan pertamaku.


“Kenalin, dia Arum adik kelasku dulu, Arum ini Dita”  sampai disini, perasaanku sudah tak tentu. Hatiku gelisah.


Aku menjabat tangannya dengan senyum manis yang aku paksakan. Mereka terlihat mengobrol sebentar dan terlihat asyik, hanya aku disini yang seperti orang asing.


“Dita, sebenarnya aku mengajak kamu kesini untuk minta tolong sesuatu hal”


“Minta tolong?”


“Jadi begini, sebenarnya Arum ini pacarku sejak 2 tahun yang lalu. Dan Karena kamu sangat dekat dengan Mamaku, aku minta tolong untuk mengenalkan Arum kepada Mamaku,  tolong ajari dia bagaimana menjadi seorang wanita yang Mamaku sukai”

 Sofa yang aku duduki rasanya seperti batu yang terbuat dari es, beku dan dingin. Seolah waktu berhenti sejenak. Mataku, terasa panas. Hatiku, jangan bayangkan lagi akan tetap utuh. Ingin sekali menghilang ke dunia yang belum pernah sekalipun terjamah. Menduduki nya sendiri dan memilikinya sendiri.


“Akan aku usahakan” kata-kata itu keluar bagai petir yang menyambar si pemiliknya. Tidak ada lagi kata-kata yang dapat aku ucapkan, semua tercekat dalam rongga kekecewaan.


Selanjutnya aku tidak dapat berkata-kata maupun berbasa-basi lagi. Sudahlah, diam akan menyelamatkanku dari perasaan yang tak menentu ini. Sepertinya aku mendapat karma dari orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku namun aku abaikan.

Pulang, aku lebih memilih jalan sendiri. Menunggu seorang teman, itu alasan yang aku katakan kepada Raka saat dia menawariku mengantar.


Mencintainya adalah sebuah rahasia, menyayanginya adalah sebuah rahasia, bahkan merindukannya pun adalah sebuah rahasia. Jika salah satu saja terungkap, bukan 1 atau 2, namun bahkan 3 hati yang akan terluka.


Biarlah Tuhan yang menjadi saksi atas ketulusan dan kesetiaanku mencintainya. Cinta bukanlah hal  yang memaksakan untuk memilikinya, namun bagaimana cara kita mencintainya dengan indah. Mencintainya hingga waktu yang tak berbatas.






-End-


Read More

Friday, January 17, 2014

I Miss Yo..



Saat kemarin. Aku begitu bergairah bahkan tak nampak lelah.
Disaat aku tau, kamu  datang berkunjung ke rumahku.
Aku berdandan rapi, tak seperti biasanya
Bukan karena cinta, namun aku hanya ingin melihat wajahmu
Bukan karena sejenisnya, namun aku hanya ingin melihat wajahmu
Bukan karena berpikir tentangmu, namun aku hanya ingin melihat wajahmu
Semua itu.. bukan harapan yang terlalu besar bukan?
6 bulan sejak terakhir kali kita bertemu..
Aku hampir lupa senyum kekhasanmu..
Namun, disaat kemarin.. aku tau jelas senyummu tak pernah berubah..
Selalu seperti itu..
Selalu membuat jantungku bekerja lebih keras..
Cukup  seperti itu, kerinduanku yang menggunung sudah  dapat terobati..


Read More
Powered by Blogger.

Translate

Blog Archive

Teman