Namun terkadang hal ini sering berada pada sebuah kenyataan.
Aku ingin bercerita tentang sebuah cinta.
Sebuah cinta tanpa syarat.
Ketika jantungmu berdetak, ragamu kaku, dan mulutmu tak mampu berbicara.
Ketika seorang yang terpanggil mendatangimu.
Dan kamu tak tau apakah orang itu tulang rusukmu.
Terpesona, dan tergoda untuk bermain-main dengan arti suka. Tertarik.
Dan tak dinyana hatimu mulai terbuka.
Bibirmu tersungging dan sebuah senyuman muncul.
Setiap melihatnya, kamu hanya terdiam. Bukan tak tahu melainkan kaku.
Jatuh cinta tak mengenal kata waktu.
Namun, ketika kata waktu sedikit menjadi gangguan buatmu.
Sekali lagi jangan salahkan waktu.
Terima itu sebagai jalan.
Jalan awal saat kamu mulai merasakan arti cinta.
Jatuh cinta tak memerlukan biaya, namun hati yang menjadi jaminan.
Ya.. dan akhirnya kamu benar-benar mencintainya.
Mencintai melebihi dari apa yang sebelumnya pernah kamu cintai.
Cinta tak mengenal kata syarat.
Namun ketika hati orang yang kamu cintai telah tertempati, apakah cinta ini akan tetap berlanjut?
Sekali lagi, cinta tak mengenal kata syarat.
Mencintai adalah sebuah ketulusan.
Menyayangi dan menempatkannya pada singgasana hati kita yang terdalam.
Namun, yang menjadi menyedihkan lagi adalah saat kamu tak mampu mengatakan itu.
Perasaanmu boleh saja sebesar gunung yang tak mampu dicapai.
Sedalam lautan yang tak terjamah.
Namun, semua itu tidak akan terkatakan jika kamu tak mengatakan.
Dan sekali lagi, cinta adalah sebuah keikhlasan.
Keikhlasan menerima dan tak menyesali ketika tak tersengaja hatimu terluka.

