Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Monday, September 9, 2013

Rapuh

Karena, singgah di hatimu itu begitu sulit
Karena, aku tak sekuat baja yang meski terbanting dan terpukul tidak akan patah..
Karena, hatiku serapuh daun kering yang terkena angin..
Ikut terbang saat angin bertiup pelan..
Lalu, harus berbuat apa?
Salah si cupid cinta yang menembakan panah asmara kepada orang yang tak mudah aku jangkau bahkan aku raih..


Read More

Monday, August 26, 2013

Cinta Tak terbalas



Betapa malu dan rumitnya cinta bertepuk sebelah tangan 
Meskipun cinta bertepuk sebelah tangan menemukan jalannya sendiri..
Itu adalah cinta yang terperangkap, dan tak bisa menemukan jalan keluar
Meskipun, aku orang yang memulainya..
Tanpa tahu apapun, jika dia mengacuhkan pandanganku suatu hari nanti.
Ini adalah cinta yang berakhir sia-sia tanpa tujuan..
Tidak pernah memiliki kesempatan untuk memekarkan setiap bunga..
Sebuah cinta yang tak pernah bisa berbuah seperti benih yang terlupakan
Ini adalah cinta yang tak terbalas..
Read More

Sunday, July 7, 2013

Cinta ku yang diam [ch. 1]


*Author : Ini adalah salah satu karya yang aku tulis sendiri. Pernah aku share di whatpatt dan yang menikmatinya pun lumayan. Cerita ini sebenarnya aku ambil dari sedikit cerita di kehidupanku. Dan.. sebenarnya juga, cerita ini aku tujukan untuk seseorang yang aku sukai.. namun dia tak pernah tau..
Let's enjoy guys :)


Secangkir kopi hangat menemaninya malam ini.
Gelap dan hujan.
Dia sangat menyukai hujan.
Baginya hujan adalah pelipur lara yang tak ada bandingnya.
Hujan dapat menolong menutupi suara tangisan dan juga menyamarkan air mata yang terjatuh turun.
Hujan selalu menjadi teman akrabnya di malam hari. Entah kenapa dia selalu ingin dalam tidurnya selalu ada suara rintik hujan yang menentramkannya.

Dia mulai menulis beberapa patah kata ke dalam diary nya, dengan menulis dia dapat mengungkapkan semua isi hatinya dan perasaannya tanpa perlu takut ditertawakan ataupun dipermalukan.
Dia mempunyai pengalaman yang tidak terlalu indah untuk dikenang dalam hal pengungkapan perasaan, dan sampai sekarang itu menjadi semacam trauma yang sulit di hilangkan. Dan hal itu kini merubah setiap karakter yang dulu melekat pada dirinya..
Semakin dia pendam, semakin tak dapat ia hilangkan..
Terkadang jika tak ada yang menarik lagi pada hari-hari yang dilaluinya, dia hanya berkutat dengan buku-buku koleksi dan diary nya..

Meringkuk di salah satu tempat favoritnya. Tanpa ada kebisingan dan hanya ada diam yang berlalu.
Dita sudah mulai mengantuk, kopi yang sudah dia teguk habis tak dapat membantunya untuk tetap terjaga. Dan tubuhnya sudah memberikan sinyal-sinyal untuk mendapatkan waktu istirahat.
Saat tak ada hal yang perlu untuk dikerjakan dan saat tubuh benar-benar menampakan sinyal kelelahan, maka tidurlah obatnya.

Dengan tidur kamu mampu membiarkan dirimu menemukan hal-hal yang dalam dunia nyata tak bisa kau lakukan. Ya.. itu adalah mimpi.. Kamu dapat menjadi apapun yang kamu mau, membayangkan  setiap kejadian yang diinginkan, namun itu tak benar-benar dapat terjadi dalam kenyataan.
Sebuah boneka teddy bear warna coklat menemani disampingnya, Dita menarik boneka itu. Merengkuhnya ke dalam pelukannya.

Namanya Hachiko, Dita terinspirasi dengan Film yang sangat terkenal itu. Berjudul Hachiko. Mengkisahkan tentang seekor anjing yang sangat setia menunggu majikannya setiap pulang kerja. Sampai sang majikan meninggal dunia, hachiko tetap menunggu nya di sebuah pemberhentian stasiun yang biasa majikannya turun di stasiun itu.

Dan Dita ingin, semoga Hachiko miliknya juga akan tetap setia menemani di setiap harinya, dalam kondisi-kondisi apapun. Saat dia sendiri, dan tak mampu untuk dapat menyelesaikan masalah di hatinya maupun di pikirannya. Dia ingin Hachiko menjadi teman setia di hidupnya.

Pagi ini, Dita bersiap untuk berangkat sekolah. Dia memang hanya masih anak SMA dengan seragam abu-abu. Seperti biasa, Dita mulai berjalan keluar menuju halte di dekat rumahnya. Tepatnya halte TransJogja yang berdiri mungil  di pinggir jalan. Tidak seperti Jakarta yang memang penggunanya yang sangat banyak sehingga untuk halte sendiri dibuat khusus agak besar untuk melayani para pengguna jasa tersebut. Dia masuk dan mengeluarkan Kartu langganan khusus Tiket Pelajar pengguna jasa TransJogja ini. Beda tarif langganan dan reguler memang hanya Rp. 1000 namun baginya lebih mudah menggunakan kartu ini karna bisa diisi ulang. Masih sepi, hanya ada 2 orang mbak-mbak yang jaga loket dan seorang bapak-bapak yang mungkin akan pergi bekerja.
Dia mengambil duduk di sebuah kursi menunggu bus yang akan membawanya ke sekolah. Tak begitu lama sudah datang bus sesuai rute dengan jalan menuju sekolah. Ah.. ternyata Dita memang agak kepagian.. belum terlalu banyak penumpang juga disini..

Dita bersekolah di Sebuah sekolah Negeri di Kota ini. Dengan banyak sekali murid-murid berprestasi disini. Kecuali dia, ya.. Dita memang hanya biasa saja. Tak perlu diperhitungkan untuk bisa membuat nama sekolahnya harum di luar sana. Hanya dengan bertingkah baik dan tidak melakukan hal macam-macam, itu yang bisa dia perbuat.

Dan juga Dita tidaklah terlalu menonjol dalam bidang apapun, entah itu keorganisasian ataupun pelajaran-pelajaran lainnya.

Memasuki gerbang sekolah yang selalu di jaga oleh pak satpam berkumis itu. Dita selalu tersenyum setiap kali melihat kumisnya yang setiap hari sepertinya semakin panjang. Penasaran juga apakah pak satpam itu tidak bersin-bersin dengan kumis yang lebat itu. Kalau kau membayangkannya malah membuatmu geli sendiri. Ah.. bapak satpam itu memang mempunyai keunikannya sendiri. Baginya itu adalah hal lucu yang sering kali tidak disadari oleh orang-orang disekitarnya.

Dita mulai menuju kelas, belum terlalu ramai.. hanya beberapa orang yang sudah duduk di bangkunya masing-masing, termasuk sahabatnya Fira.. ternyata dia sudah berangkat lebih dulu dari biasanya..

“Tumben kamu Fir.. udah berangkat, biasanya aja bel masuk kurang 5 menit baru sampai di depan kelas” tanyanya pada Fira.

“Aku kan sekarang rajin Dit.. dan ternyata berangkat pagi itu bisa membuat otak kita benar-benar fresh lho..” jawab Fira nyengir. Dita melihat Fira yang sedang sibuk menulis di buku, ah.. sekarang dia  tau alasan kenapa Fira berangkat agak pagi begini.

“Iyaa.. emang kamu rajin banget deh Fir.. rajin buat nyalin PR di sekolah” sindirnya.
“Hehehe.. Kamu taulah Dit.. tiap malem kan aku sibuk”
“Lhah, emang sibuk apa?”
“Sibuk telponan sama pacar tersayangku” jawab Fira kembali dengan cengirannya.

Anak ini emang bener-bener, selalu saja menganggap urusan sekolah adalah belakangan, apakah dia tidak tau kalau orang tuanya itu menyekolahkannya juga untuk dirinya.

Tapi Dita terlalu paham dengan sikap Fira yang cuek dan malas itu. Mereka memang sudah bersahabat sejak masuk SMA ini. Orang yang Dita kenal pertama kali adalah Fira, anak baik hati yang tidak terlalu pilih-pilih teman. Dan, karena mempunyai sahabat seperti Fira juga Dita masih bisa tetap betah disekolah ini.

Mempunyai seorang sahabat adalah hal yang tidak ternilai harganya. Kamu bisa kehilangan berpuluh-puluh teman, namun tidak untuk satu sahabat.
Sahabat yang selalu dapat menjadi temanmu disaat bersuka dan berduka. Sahabat yang dapat membuatmu nyaman, saat kamu menjadi dirimu sendiri. Cinta itu imajinasi yang mengalahkan logika, dan persahabatan adalah logika yang menciptakan imajinasi.

 “Kamu udah ngerjain tugas dari bu Rosa, Dit?”
“Udah dong, sampai aku bela-belain pinjem buku tebel kayak gini di perpustakaan” jawabnya

Dita mulai duduk di bangku disampingnya.
Pelajaran Akuntansi memang butuh ketelitian, entah itu dalam hal penulisan angka, pengerjaan ataupun pemahaman. Tapi, setelah kamu benar-benar memahaminya, ini akan menjadi hal yang mengasyikan. Dan kamu akan selalu penasaran untuk mengerjakan dan memecahkan masalah di setiap soal-soalnya.
Dita mengenal pelajaran Akuntansi, saat dia naik kelas dua. Dan saat itu pula dia memasuki jurusan IPS bukannya IPA. Ikatan Pelajar Santai, mereka bilang. Dan menurutnya memang begitu. Jurusan IPS lebih santai dibanding Jurusan IPA yang dipenuhi pelajaran-pelajaean yang membuat otak mu benar-benar keriting.

Waktu berlalu begitu cepat,bel istirahat pun berbunyi.
Dita dan Fira segera keluar dari dalam kelas. Penghuni kelas yang berjumlah hampir 40 pun juga berbondong-bondong berhijrah menuju kantin.

“Dit, ke kantin yuk.. Laper nih” ajak Fira
“Kamu duluan aja ya Fir, aku mau ngembaliin buku dulu yang kemaren aku pinjem” jawabnya dengan muka bersalah karena tidak dapat menemani sahabat nya yang satu ini.

“Yah.. Okedeh.. Nanti nyusul ya!” pinta Fira
Dita hanya tersenyum memandangi sahabatnya berjalan cepat dan seolah berlari itu. Mungkin saja cacing-cacing di perutnya mungkin sudah melakukan demo anarkis sehingga tidak dapat menahan barang sebentar saja.Dita mulai berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang mana ujungnya terdapat sebuah perpustakaan yang agak tua menurutku, bersandingan dengan kantor guru.

“Dita!” sepertinya seseorang memanggilnya. Dita menengok, tapi di belakang tidak ada siapa-siapa, dan ternyata orang itu berada tidak jauh di depannya. Dengan posisi jalan yang menunduk ini, pantas saja Dita tidak melihatnya. Dan untungnya dia mengenali sekali wajah dengan senyum khas yang sedang di tampilkan dihadapannya itu.

“Fandi!” jantung Dita seakan berdegub kencang sekali, kaki nya serasa lebih berat untuk diajak jalan.
“Hey.. Apa kabar? Kita jarang ketemu ya..” sapanya
“Kabar ku baik.. “ jawab Dita sambil tersenyum
“Kamu mau kemana? “
“Aku mau keperpustakaan, ngembaliin buku ini” Dita menunjukan buku tebal yang kini sedang dia bawa.
“Wah.. sama dong, aku juga mau keperpustakaan.. bareng aja yuk!” ajak Fandi

Dita hanya mengangguk, dia tak berani menatapnya langsung.
Akhirnya mereka berjalan beriringan, menuju tempat tujuan yang sama yaitu perpustakaan.
Fandi adalah seseorang yang cukup dikenal di sekolah ini. Dengan kepribadiannya yang ramah dan mudah akrab, dia gampang saja diterima dalam pergaulannya. Dia juga sangat aktif dalam keoragnisasian di sekolah, termasuk menjadi seorang anggota OSIS. OSIS disekolah ini memang lumayan disegani, dengan banyaknya acara-acara yang diadakan di sekolah, maka nama OSIS juga ikut melambung dalam hal pelaksanaan. Tak menutup kemungkinan untuk para anggotanya untuk ikut dikenal kebanyakan siswa.

Berbeda sekali dengan Dita, Fandi sangat populer di kalangan para cewek-cewek di sekolah ini. Dan Dita juga sangat yakin pasti sudah ada seseorang yang benar-benar menarik hati Fandi.

Dita menyukainya, rasa suka nya yang terpendam seakan semakin bertambah saja seiring mereka sering bertatap muka. Dan dengan kepribadiannya yang seperti ini tak mungkin sekali untuk nya dapat mengungkapkan perasaan pada Fandi. Dan cukup hanya dia yang memendamnya.

“Dit.. kapan-kapan maen kerumah dong, Mama sering nanyain kamu tuh.. “ Fandi tiba-tiba membuka percakapan.
“Iya deh Fan.. kalo aku nggak ada acara ya,  eh gimana kabar mama kamu?”
“Mama aku baik, oh iya.. rencana, lusa besok kita mau ngadain makan malem bareng sama keluarga kamu, kamu ikut ya?”
Dita hanya mengangguk, kalo saja Dita menuruti kata hati nya mungkin dia sudah akan sering bermain kerumah Fandi, tapi sekali lagi.. Dita tak berani.
to be contiuned....
Read More

Wednesday, December 12, 2012

Unconditional Love?



Ini hanya sebuah cerita. Jangan artikan sebagai nyata.
Namun terkadang hal ini sering berada pada sebuah kenyataan.
Aku ingin bercerita tentang sebuah cinta.
Sebuah cinta tanpa syarat.
Ketika jantungmu berdetak, ragamu kaku, dan mulutmu tak mampu berbicara.
Ketika seorang yang terpanggil mendatangimu.
Dan kamu tak tau apakah orang itu tulang rusukmu.
Terpesona, dan tergoda untuk bermain-main dengan arti suka. Tertarik.
Dan tak dinyana hatimu mulai terbuka.
Bibirmu tersungging dan sebuah senyuman muncul.
Setiap melihatnya, kamu hanya terdiam. Bukan tak tahu melainkan kaku.
Jatuh cinta tak mengenal kata waktu.
Namun, ketika kata waktu sedikit menjadi gangguan buatmu.
Sekali lagi jangan salahkan waktu.
Terima itu sebagai jalan.
Jalan awal saat kamu mulai merasakan arti cinta.
Jatuh cinta tak memerlukan biaya, namun hati yang menjadi jaminan.
Ya.. dan akhirnya kamu benar-benar mencintainya.
Mencintai melebihi dari apa yang sebelumnya pernah kamu cintai.
Cinta tak mengenal kata syarat.
Namun ketika hati orang yang kamu cintai telah tertempati, apakah cinta ini akan tetap berlanjut?
Sekali lagi, cinta tak mengenal kata syarat.
Mencintai adalah sebuah ketulusan.
Menyayangi dan menempatkannya pada singgasana hati kita yang terdalam.
Namun, yang menjadi menyedihkan lagi adalah saat kamu tak mampu mengatakan itu.
Perasaanmu boleh saja sebesar gunung yang tak mampu dicapai.
Sedalam lautan yang tak terjamah.
Namun, semua itu tidak akan terkatakan jika kamu tak mengatakan.
Dan sekali lagi, cinta adalah sebuah keikhlasan.
Keikhlasan menerima dan tak menyesali ketika tak tersengaja hatimu terluka.



Read More

Sunday, October 21, 2012

Setiap Hari Ada Dia


Setiap hari ada dia…
Aku mendongak menatap gadis yang tersenyum manis di hadapanku. Dengan senyum polos, mata yang berbinar itu mengedip padaku sekali lagi, lalu ia tertawa. Memamerkan bahagia yang jelas tergambar di wajah mungilnya. Namun, tanpa menunggu responku, ia kembali berlari meninggalkanku. Bergabung bersama teman-teman barunya.
Ia tahu aku mengawasinya. Sesekali ia masih menoleh, melemparkan senyum setelah itu kembali sibuk bercanda tawa dengan orang-orang yang mengelilinginya. Dia bintang diantara gadis-gadis itu. Dulu begitu, sekarang pun masih. Senyum, canda, kata-katanya selalu membuat orang lain ikut merasa bahagia. Sama seperti mereka, aku pun pernah merasakan cahayanya.
“Aku akan menjadi istri yang paaaaaaling bahagia sedunia!” katanya ketika itu.
Aku hanya meringis dan balas menjawab, “Dan aku akan menjadi suami paaaaaling menderita di dunia!”
“Aaah, Kak Zoe! Kok gitu sih?” Bibir gadis mungil itu merengut kesal. Tapi aku tak peduli. Seperti hari ini, esok, lusa bahkan sampai kapanpun, aku takkan pernah ingin menjadikan dirinya sebagai bagian penting dari hidupku. Buatku, ia hanyalah gadis tetangga yang masih kecil dan naif.
Kimberley jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Itu ungkapan hati yang dia suarakan hanya beberapa hari setelah resmi menjadi tetanggaku. Gadis peranakan keturunan Prancis-Jawa itu masih berusia 12 tahun ketika mengatakannya di hadapan kedua orangtua kami saat acara makan malam di rumahnya. Aku masih SMA kelas dua saat itu dan hanya bisa melongok lalu menahan malu luar biasa karena digoda habis-habisan oleh Mama dan Papa. Kakakku Ray yang tadinya sama sekali tak bersemangat hadir, benar-benar menjadikan makan malam itu bencana yang lengkap untukku. Ia bahkan setuju menjadi mak comblang untuk cinta sepihak Kimberley.
Waktu berlalu, tapi cinta Kim seakan tak pernah berubah. Aku mulai lelah menghadapinya. Beberapa kali kukatakan bahwa aku tak pernah mencintainya.
“Aku tak tahu cinta itu apa, Kak Zoe. Aku hanya tahu. Aku selalu ingin bersama Kakak. Aku ingin lihat wajah Kakak, aku ingin selalu bersama Kakak. Daddy bilang that’s love, Kim! Jadi aku pikir, aku pasti jatuh cinta. Aku akan pastikan nanti kalau aku sudah dewasa. Tapi sementara menunggu itu, aku hanya ingin Kak Zoe tahu,” katanya saat aku bertanya arti cinta dalam pandangannya.
Dan ketika hatiku sempat terpaut pada teman sekelasku yang manis, tanpa malu-malu Kim mendatangi gadis itu dan memberitahu segalanya. Tanpa sempat kuungkap isi hatiku sendiri, Kim sukses membuatku malu sekali lagi. Aku marah besar.
“Buatku, kamu hanya anak kecil! Tidak lebih tidak kurang! Aku suka sama siapa itu urusanku, not your business, Kim! Go to hell and keep your step out from my life!” bentakku di depan Ray. Ray berusaha menyabarkanku, tapi aku benar-benar marah pada gadis kecil itu.
Cinta Kim memaksa aku mengambil keputusan paling ekstrim sepanjang hidupku. Aku yang tak pernah peduli dengan pelajaran di sekolah, hampir tak pernah berprestasi apapun dan hanya punya satu tujuan hidup untuk menjadi pembalap, berubah dalam semalam. Demi bisa keluar dari rumah dan tinggal di negara lain untuk menghindarinya, aku berjuang keras memperbaiki nilai-nilaiku di tahun terakhir SMA. Papa mengizinkan aku pindah asalkan aku kuliah di universitas pilihannya. Kekerasan hati membawaku pada keberhasilan. Tangis Kim berhari-hari tak mampu meredam keinginan untuk pergi meninggalkannya.
Tadinya kukira dengan jarak dua benua, maka segalanya pun berakhir. Aku meninggalkan pesan agar Ray, Mama atau Papa tidak menggangguku dengan segala urusan Kim. Kukatakan aku ingin menyelesaikan studi secepat mungkin demi penghematan biaya. Aku ingin secepatnya menyelesaikan program engineering yang terpaksa kuambil sebagai bagian dari perjanjian dengan Papa lalu bekerja sejauh mungkin dari Jakarta, kalau perlu tetap tinggal di Australia sampai Kim menikahi orang lain. Itu rencanaku.
“Kau kan hanya bilang kami tak boleh membicarakan dia, tapi tak pernah melarang kami untuk memberikan alamat emailmu padanya. Tenang saja, Zoe. Daddynya sudah menahan paspor Kim begitu dia tahu kamu di mana, jadi dia takkan ke sana. Gampang, delete saja surat-suratnya kalau ada,” ujar Ray berkelit ketika aku tahu dia memberi alamat surelku pada Kim.
Surat-surat elekronik Kim mulai berdatangan. Dan rasa sunyi di kota yang asing akhirnya berhasil memancingku untuk mulai membaca email Kim.
How are you, Kak Zoe? Miss you so much here. Aku masih selalu ingat Kakak, semua masih tentang Kakak. SMA memang menarik, ada banyak teman baru di sini tapi aku masih tak bisa menghilangkan kakak dari pikiran.
Apa kuliah begitu mengasyikkan sampai liburan semester pun kau tak pernah pulang? Kakak, aku rindu sama Kak Zoe. Mama, Papa dan Kak Ray juga. Pulang ya? Bisakah?
Hampir tiap hari Kim mengirimiku email bahkan foto-fotonya secara rutin. Ia menceritakan semua hal yang mengisi hari-harinya tanpa diriku. Tentang sekolah barunya, teman-temannya, keluarganya lalu berpindah pada keluargaku, sekeliling rumahnya dan rumahku yang dianggapnya seperti rumah kedua, Ia bahkan menyelipkan cerita tentang si kucing kecil yang ia temukan saat pulang sekolah. Kucing yang kemudian ia resmikan menjadi miliknya dengan nama Zokim. Nama gabungan antara aku dan dia. Ia mengirimkan foto Zokim dengan tulisan di bagian belakang “Zokim - God’s first gift for Zoe & Kim”
Setiap malam, saat aku sendirian di apartemenku, saat itulah waktuku bersama email-email Kim. Waktu seakan berhenti ketika membaca kisah-kisahnya di dalam email terbaru yang ia kirimkan. Aku bagai sebuah diary yang tak bisa bicara, namun mengetahui semua isi hatinya. Hari, bulan dan tahun berlalu. Di antara kesibukanku sebagai mahasiswa, aku selalu menyempatkan diri membaca email Kim. Aku ikut tersenyum, tertawa, murung, bahkan kecewa saat membaca curahan hati Kim. Email Kim seperti sahabat yang menghiburku saat ia mengirimkan cerita-cerita lucu, seperti kekasih yang memelukku dalam rindu, seperti teman yang berbagi beban kesulitan. Nun jauh di sana.
Sampai suatu hari…
Email-email itu tiba-tiba berhenti mendadak. Saat itu aku sibuk mempersiapkan ujian, setelah selesai aku masih harus menyiapkan akomodasi orangtua dan kakakku yang akan datang, hingga tak memperhatikan lagi inbox message yang masuk. Semua berlangsung sesuai rencana, aku juga berhasil memperoleh sebuah pekerjaan di sebuah daerah pertambangan di Nusa Tenggara Barat, jauh dari Jakarta. Papa dan Mama pun sudah mengizinkan kecuali Ray.
“Pulanglah dulu, Zoe. Kim sakit,” katanya dengan wajah murung.
Sesuatu di hatiku terasa teriris. Sambil menahan nafas aku bertanya, “sakit apa?”
Ray menatapku lama sekali. Sebelum menunduk menyembunyikan wajah. “Pulang saja, Kim takkan bisa mengganggumu lagi. Setidaknya tengoklah dia sebagai seorang teman yang baik,” bisik Ray, pelan sekali.
Seribu tanya beredar dalam pikiranku, bayangan terburuk muncul dan aku berusaha menghilangkan ketakutanku. Entah mengapa, kebencianku pada gadis itu lenyap tak bersisa. Tak tahu kapan ketidaksukaanku padanya berubah menjadi kekuatiran. Aku pulang bersama Mama, Papa dan Kak Ray seusai acara inagurasi selesai.
Gadis itu sudah berubah, tak seperti foto-fotonya yang selalu menampilkan tawa atau senyum lebar, aku melihatnya duduk seorang diri di kursi ayunan yang dulu pernah dibuatkan oleh Ray dan aku. Ia berayun-ayun sambil mengelus-elus seekor kucing. Tampak tenang dan sangat berbeda dari bayanganku selama ini. Gadis yang ceria, cerewet, dan tak bisa diam.
Ia mengangkat kepala, menatapku. Namun kembali menunduk dan terus mengusap kepala kucingnya yang kutebak pasti Zokim. Sesaat tangannya berhenti bergerak, lalu kembali menatapku. Aku masih diam tak bergerak di pintu masuk, bersiap diri kalau ia menghambur dalam pelukanku seperti dulu setiap kali aku masuk ke halaman rumahnya. Kali ini aku berjanji takkan bergeser sedikitpun darinya. Aku terpaksa mengaku, hampir lima tahun tak bertemu ternyata membuatku bisa merasa rindu luar biasa padanya. Meski aku tahu Ray ternyata berbohong, gadis itu kelihatan sehat dan bugar. Tak kurang suatu apapun.
Aku tak lagi peduli kalau mataku memancarkan rindu, aku tak peduli lagi berapa lama kali ini Kim akan membelengguku dengan pelukannya yang erat, aku juga tak peduli lagi kalau akhirnya tak bisa menahan mulutku untuk berkata aku rindu. Aku hanya berharap, ia segera mendatangiku, menjerit senang atau melompat gembira seperti dulu.
Gadis itu diam lama sekali. Aku mulai tak sabar. Dan akhirnya ia berdiri, berjalan mendekatiku setelah membebaskan si kucing ke tanah. Tatapannya berbeda, terlalu berbeda dari saat aku meninggalkannya dulu. Tak ada tatapan penuh cinta, penuh harap dan memohon seperti dulu. Tatapan Kim kini kosong, seperti mata boneka. Berkilauan, tapi tak ada ekspresi di dalamnya.
“Kakak… Kakak ini… ” gumamnya setengah berbisik. Kening Kim berkerut-kerut, lalu tiba-tiba ia menjerit keras sekali sambil memegang kepalanya. Kesakitan.
Suara jeritan Kim membuatku kaget dan ternyata juga seperti alarm yang memanggil semua penghuni rumah. Tak hanya rumahnya, tapi juga rumahku. Daddy dan Mommy Kim berlarian keluar dari dalam rumah, sementara Ray, Papa dan Mama menghambur masuk dari pintu pagar. Semuanya berlari mendekati Kim. Mereka berebutan menolong, memeluk, memapah, membisikkan kata-kata menenangkan sambil membawanya masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku yang terpana kebingungan. Sesuatu yang salah sedang terjadi pada Kim. Gadis itu bukan Kimberley yang kukenal.
***
Sulit bagiku menerima kenyataan. Kimberley-ku sudah tiada. Kecelakaan yang dialaminya membuat gadis itu melupakan banyak hal, kehilangan seluruh kemampuan yang selama ini dimilikinya. Kim kembali menjadi seorang anak-anak, tak bisa membaca, tak mengenal siapa-siapa, tak tahu apapun bahkan membedakan kiri dan kanan, atas atau bawahpun dia tak bisa. Otaknya yang cerdas kini lenyap tak bersisa. Ia berubah menjadi sosok dengan kemampuan berpikir bagai anak balita yang terbungkus tubuh dewasa. Kecuali satu, dia masih selalu senang berada di sisiku.
Email-email Kim dulu masih ada. Seringkali jika rasa tak percaya timbul, kubuka kembali dan kukenang satu persatu setiap ceritanya dengan bertanya. Namun, Kim hanya menatapku dengan tatapan bingung. Mengiraku sedang berbicara sendiri.
Selembar kertas kutemukan tanpa sengaja ketika membereskan kamar Kim. Isinya berhasil meyakinkan diriku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Apa yang kuinginkan sekarang?
Satu keputusan besar sekali lagi kuambil. Aku ingin menikahi Kim. Bukan rasa bersalah seperti dugaan seluruh keluarga kami berdua, tapi karena aku menyadari satu hal pada akhirnya. Aku jatuh cinta pada Kim. Sama seperti Kim, yang dulu pernah berkata tak pernah tahu apa itu cinta atau bukan, aku juga perlu waktu untuk menyadarinya. Hanya sayang, aku sadar setelah semuanya terjadi.
Dulu sekali, tanpa kusadari seorang gadis datang padaku. Mengambil bagian dari hatiku, mengukir namanya walaupun sangat kecil di salah satu sudut. Ia mencintaiku, sangat mencintaku sampai aku takut padanya. Entah apa sebabnya. Namun waktu membuatku mengerti. Karena saat bertemu dengannya, aku seperti melihat diriku. Menangis dan tertawa untuk seseorang. Menyakiti dan tersakiti dalam satu waktu. Aku berusaha mengusirnya karena aku takut rasa itu akan menguasai seluruh hidupku. Dan ketika semakin terjebak dalam pusaran kasih sayang itu, aku bahkan tak sanggup membayangkan hidup tanpa dirinya.
Kimberley-ku dulu memang tiada, tapi senyum dan tawa itu masih sama. Entah ia paham atau tidak, ia masih selalu menikmati setiap kebersamaan kami. Dan aku merasa cukup… hanya melihat senyum serta tawa yang dulu selalu ia berian padaku. Kim menemaniku dalam kesendirianku, ketika aku bahkan tak pernah ada untukku saat ia sendiri menangis dalam rindu. Kini, aku ingin menemani Kim sepanjang hidupku, meski Kim tak mengenal diriku.
‘Kakak, jangan tinggalkan aku!’ satu-satunya kalimat yang setiap malam ia ucapkan sebelum tidur. Kalimat pertama yang ia ucapkan setelah kami menikah selama enam bulan, padahal aku selalu mengajarinya untuk mengucapkan I Love You seperti dulu. Mungkin dibandingkan meraih cintaku, Kim lebih takut aku pergi jauh darinya. Sekarang perasaan itu selalu berada di dalam hatiku. Takut Kim tertidur tanpa pernah bangun lagi, kuatir ia semakin lupa padaku dan mengusirku suatu hari nanti.
Setiap detik bersama Kim, mencintai, mengasihi sampai ia mengingatku lagi. Harapan mungkin tinggal harapan, karena sudah banyak dokter yang kami datangi semuanya angkat tangan. Tapi aku tak pernah menyerah, setidaknya aku hanya mengharap mata Kim tetap menatapku dengan cinta seperti sekarang, sama seperti dulu ketika ia masih memujaku bagai tokoh idola.
Seperti hari ini, seusai terapi yang harus ia lakukan. Menatapnya dari kejauhan, membiarkannya sementara bergembira bersama orang-orang yang sama seperti dirinya. Tak mengingat apapun, selain hanya harus tertawa menikmati dunia hari ini. Aku tak pernah memikirkan pandangan kasihan dari orang-orang, ataupun kata-kata sindiran menyakitkan saat mereka melihat Kim. Karena aku tahu, Kim tak pernah peduli. Dulu ia tak pernah peduli meski semua orang mengejek cintanya padaku, aku juga tak mau membiarkan ejekan orang menghentikan kesempatanku mencintai Kim. Kim, nama yang kuukir sangat kecil di sudut hatiku, ternyata tertulis dalam dan indah. Nama yang selamanya akan tetap terpatri sampai maut memisahkan kami berdua.
Jauh dalam hatiku, terkenang barisan kalimat dalam lembaran kertas yang kutemukan hari itu.
Setiap hari ada dia…
Di ingatanku, di hatiku, di setiap denyut jantungku…
Aku cinta dia selamanya, meski ia melupakanku, meski ia menjauhiku…
Aku akan berlari mendekat, aku akan terus menggapainya…
Cinta bukan untuk menjauh, cinta untuk direngkuh.
I Love You, Kak Zoe…
“I love you too, Kimberley,” bisikku, saat ia mendekat setelah aku melambai padanya. Ia tersenyum, lagi. Aku meraih tangan Kim, menarik tubuhnya dalam rangkulan, memastikan ia aman bersamaku. Kemudian, kami berjalan keluar meninggalkan rumah sakit. Hari ini, esok dan nanti, ia bersamaku dalam rengkuhan cinta.
*****

Note :  Cerpen ini aku repost dari Rumah Bunda
           Karena aku suka banget blogwalking, dan akhirnya aku nemu tulisan ini deh..  
           Ceritanya seru,
           sangat menyentuh.. dan juga banyak hikmah yang bisa di petik.
           Seperti, Cinta, pasangan, kita gak tahu siapa yang diperuntukan buat kita. Yang
           menurut kita tidak pantas ternyata itu jodoh kita. Kita gak boleh maksa orang buat
           gak suka sama kita, karena itu hak dia buat menyukai seseorang.
         
          So.. ikuti kata hatimu jangan hanya logikamu ^^
Read More

Someday

 
 
Aku mencintaimu..
Kata itu tak pernah bisa terucapkan
Kata itu selalu saja terpendam
Sekuat aku mengeluarkannya, namun terus saja tersendat di dada..
Sosok itu...
Selama berada di dekatnya, rasa nyaman ini menguasai
Jantung berdetak maksimal, perasaan senang membuncah di dalam hati
Tapi, sekali lagi...
Semua itu tak dapat terungkapkan
Hanya di dalam hati ini.. di dalam hati..
Melihatnya tersenyum, tertawa, bercanda..
Rasanya hati ini juga ikut merasa
Aku hanya berharap suatu saat entah kapan
Aku dapat melihat bahwa dia akan tau perasaanku
Melihatnya merespon
Melihatnya tau hal yang tak pernah diketahuinya
 
"And someday i hope maybe coming "
Read More
Powered by Blogger.

Translate

Blog Archive

Teman