Tuesday, August 9, 2016

Apakah Masih Jaman Siti Nurbaya?


Saya pikir sekarang sudah jamannya keseteraan gender. Ketika hak-hak wanita mulai di akui, dan pendapat-pendapat mereka mulai di dengar. Namun, bagaimana dengan perjodohan? Apakah wanita mempunyai hak untuk menemukan jodohnya sendiri? ataukah masih saja ada keterpaksaan dalam menjalin rumah tangganya?

Akan ada banyak pro kontra dalam membahas ini. Mungkin bagi wanita yang berpikiran bebas dan terbuka, tentu saja perjodohan tanpa mengenal satu sama lain adalah hal yang kolot yang masih saja dilakukan di jaman modern ini. Wanita berhak menentukan pilihannya sendiri. Bahkan jodoh adalah hal yang tak bisa dipaksakan.

Dan bagi sebagian orang, perjodohan adalah sebuah wujud kepatuhan anak terhadap orangtuanya. Ada norma-norma tertentu yang membuatnya harus dipatuhi. Sampai saat ini, masih banyak terjadi hal semacam ini. Ini wajar karena kita masih menganut adat ketimuran, rasanya membantah perintah orang tua adalah sebuah kesalahan besar.

Selain itu, bagi suatu agama tertentu perjodohan adalah proses yang baik untuk membangun suatu rumah tangga. Dalam agama islam dikenal dengan kata ta'aruf. Dimana satu sama lain hanya melakukan perkenalan tanpa pacaran. Ini dilakukan agar tidak terjadinya sebuah pelanggaran-pelanggaran tertentu atau sebuah perzinaan. Jika mereka memang saling tertarik satu sama lain, maka proses akan bergulir tahap berikutnya yaitu pernikahan.

Lalu, apakah hal semacam itu bisa disebut perjodohan layaknya dilakukan pada jaman Siti Nurbaya? Dimana ia dipaksa menikah dengan seseorang yang lebih tinggi derajatnya dan lebih tua darinya. Dan yang lebih menyakitkan ia tak mencintainya sama sekali.
Hal semacam itu memang sangat menakutkan, apalagi bagi sebagian wanita. Tak mengindahkan hak-hak wanita, dan sebaliknya menginjak-nginjak hak-hak wanita akan kemerdekaannya.

Dan kemudian, mari kita lihat jaman sekarang. Apakah perjodohan-perjodohan yang terjadi pada jaman sekarang ini terlihat menakutkan seperti itu? Tentu tidak. Jaman sekarang sudah banyak lembaga-lembaga penegak hak asasi manusia. Apalagi pelindung hak-hak wanita. Jika terjadi hal-hal semacam Siti Nurbaya, dan si wanita merasa dirugikan akan mudah untuk dilaporkan. Beberapa pihak tentu akan sangat hati-hati.

Bagi saya, saat ini bukanlah jamannya perjodohan-perjodohan layaknya Siti Nurbaya. Wanita mempunyai haknya sendiri untuk memilih, dan juga dipilih. Wanita mempunyai  kekuasaan penuh atas hidupnya. Disamping itu, setidaknya wanita juga harus mengakui kelemahannya. Bahwa ia memang makhluk lemah, dibanding lelaki ia lebih rapuh. Maka dari itu, wanita pastinya membutuhkan sosok seorang lelaki. Sehebat-hebatnya wanita ia tetaplah hanya tulang rusuk lelaki.
Dan jika perjodohan terjadi padanya, setidaknya ia bisa melihat hal positifnya. Bahwa itu adalah upaya untuk menemukan jodohnya. Dan yang pasti sebuah pernikahan terjadi haruslah dilandaskan atas sebuah cinta sama lain, bukan keterpaksaan.






Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Translate

My photo

semua berawal dari mimpi, semua berakhir dengan mimpi.

Blog Archive

Teman